sumber gambar : google.com

Kemerdekaan yang Tercampakan

Dalam hitungan beberapa hari kedepan. republik ini kembali menyongsong peringatan hari kemerdekaan, yaitu Tepatnya tanggal 17 agustus. Hari dan tanggal yang begitu bermakna, dimana lembaran-lembaran sejarah perjuangan itu kembali dibuka, untuk mengingat dan meyadarkan kembali anak bangsa yang mulai lupa akan rintihan pengorbanan para pahlawan, yang telah ikhlas mendermakan harta, tenaga dan nyawa sekalipun, demi mempertahankan negeri tercinta yang bernama indonesia.

Inilah negeri para syuhada, yang rela tetesan darahnya mengalir ke sudut-sudut negeri ini, menjaga sejengkal tanah, dari tangan-tangan kotor pemberontak, dengan basahan keringat yang terus bercucuran, semangat yang tetap terpatri dalam jiwa para pahlawan, semuanya nenjadi satu, satu tujuan demi tegaknya kemerdekaan untuk indonesiaku tercinta.

Tidak ada kalimat putus asa, apalagi menyerah, ditengah kesederhanaan persenjataan seadanya, hanya bermodalkan alat tradisional bambu runcing, serta kesungguhan yang terus membara, mampu menggetarkan dan mengusir keberingasan penjajah dengan persenjataan lengkapnya. Tidak ada kelelahan, tidak ada rasa rakut, semuanya hilang demi menjaga kesucian bendera merah putih. Dentuman peluru dan bunyi meriam dari para penjajah, tidak mampu melunturkan semangat juang para pahlawan. Kemerdekaan adalah harga mati, dan harga diri negeri ini, sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Merah putih harus tetap berkibar, walaupun lelehan darah terus mengalir di pinggiran tiang-tiang bendera yang tertancap menjulang kelangit.

Itulah sekelumit pengorbanan para pendiri bangsa ini, memori yang begitu menakjubkan untuk dikenang, hingga terasa bulu kuduk ini berdiri mendengar sejarah peristiwa perjuangan itu. Dan langsung merasa berhutang, bahwa hirupan udara bebas yang kita rasakan sekarang ini, merupakan anugerah dari Allah SWT, lewat perjuangan para pahlawan itu.

Kini, mereka telah tiada. Pergi jauh meninggalkan bumi pertiwi, Menuju peristrihatan yang kekal lagi abadi. Membawa segenggam sejarah yang tercatat dengan tinta emas, hingga mampu mengubah peradaban manusia sekarang. Tidak ada lagi peperangan, tidak ada lagi bunyi peluru dan dentuman meriam, kondisi berubah 180 derajat dengan masa 71 tahun yang lalu. Mungkin, jika para pahlawan itu diberikan kesempatan, melihat indonesiaku sekarang, mereka akan tersenyum dan gembira, karena telah memberikan oleh-oleh terindah kepada anak cucunya, dari rasa aman dan damai, jauh dari bisingan bunyi peluru dan meriam, yang pernah mereka dengar dan alami sendiri, pada 71 tahun yang lalu.

POTRET TERKINI

Ditengah senyuman dan kegembiraan yang mereka rasakan, sebagaimana penulis sebutkan. Mereka para pahlawan, mungkin juga akan bersedih dan menangis, Meratapi kondisi anak bangsa masa kini. Kemerdekaan yang diraih dengan susah payah, perlahan mulai tergerus oleh arus apatisme individual maupun kolektif. Sikap nasionalisme mulai retak, simbol-simbol komunisme perlahan mulai dihidupkan kembali. Masa suram yang diputar kembali dengan skenario lebih modern. Atas nama hak asasi manusia (HAM), mereka (komunis) seperti ingin membuka kembali pembalut luka yang sudah lama kering seiring perjalanan peradaban negeri ini, dan tanpa sadar melukai dan menghianati sejarah perjuangan panjang para pahlawan.

Nasionalisme telah tergadai oleh sikap materialistik individual, menganggap bahwa kehidupan sekarang adalah untuk memikirkan bagaimana caranya mendapatkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, dan perjuangan hanyalah cerita sejarah masa lalu. Rintihan perjuangan itu, hanya kenangan yang tak berarti apa-apa. Sungguh memilukan dan bahkan memalukan.

Kondisi ini bukan tanpa fakta dan realita. Marilah kita jujur akan kondisi sekarang, menjelang peringatan hari kemerdekaan 17 agustus yang tinggal hitungan hari ini, berapa banyak masyarakat yang sadar memasang bendera merah putih dihalaman rumahnya. Sejauh mana penghargaan kita terhadap pejuang yang masih hidup hingga sekarang..?? Sungguh sangat menyedihkan. Lihatlah pada beberapa tahun yang lalu, masih ingatkah kita dengan bapak tamireja bekas pejuang dari Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang? Tinggal di Gubug yang disusun dari papan tripleks sederhana di bawah Gunung Putri, yang Sesekali sebagian dinding ikut bergoyang bersama embusan angin yang menerpa sejumlah pohon di sekitarnya. Dan pernahkah kita mendengar cerita pak anwar, Komandan Kompi 3 Sumatera Bagian Selatan dengan pangkat Letnan Satu, yang hidup terlunta-lunta dan menderita dimasa tuanya sebagai pengemis jalanan. Padahal, Lubang kecil bekas hantaman peluru yang menghiasi kaki kananya, menjadi bukti keikutsertaannya berjuang untuk bangsa dan negara ini. (Baca : pahlawan yang terlupakan)

Sungguh, nilai kemerdekaan yang tercampakkan, kondisi yang begitu menyayat hati, akan perlakuan yang kurang wajar terhadap kesucian merah putih dan alumnus pejuang yang masih hidup. Itulah gambaran kacang lupa kulitnya. Bendera yang dipertahankan dengan darah dan air mata, seperti tidak lagi berarti untuk dikibarkan dan dipasang menjelang peringatan hari kemerdekaan 17 agustus, tapi coba kita lihat, ketika perhelatan piala dunia atau piala eropa, atribut bendera-bendera negara asing begitu menjamur dan berserahkan dibanyak tempat, terpasang begitu kokoh dan menjulang kelangit didepan rumahnya, dan tidak sedikit terpasang dan dikibarkan dipuncak pegunungan sebagai bentuk dukungannya terhadap negara tersebut. Padahal, jika kita tidak amnesia terhadap sejarah kemerdekaan, maka kita dapati diantara bendera yang terpasang dihalaman rumahnya, dan diatas ketinggian gunung itu, ada bendera negara sebagai penjajah negeri ini, menumpahkan darah para pahlawan, dan merobek-robek kesucian bendera merah putih pada waktu itu.

Untukmu pahlawanku

Terima kasih pahlawanku. Tanpa jasa-jasamu kami tidak akan bisa hidup seperti sekarang ini. Kami sadar bahwa kesucian bendera merah putih yang kau pertahankan dulu, mulai usang dalam ingatan para pelanjut perjuanganmu sekarang. Untukmu pahlawanku yang masih hidup, Maafkan kami yang telah berdosa karena ingkar dan tak mempedulikanmu semasa hidupmu bahkan meremehkanmu di saat ragamu tak lagi muda dan gagah. Semoga upayamu memerdekakan negeri ini tak akan pernah sia-sia, dan berharap semoga, lelahmu, keringatmu dan tetesan darah serta air matamu, menjadi saksi dihadapan Allah SWT.

Selamat HUT RI KE-71

Share Artikel :

Leave a Comment